Theme Preview Rss
Showing posts with label weekend. Show all posts
Showing posts with label weekend. Show all posts

toreniaku kering

Yang gak aku suka saat pulang ke Jawa rada lama adalah aku mesti ninggalin tanamanku tanpa ada yg ngerawat. Sekembalinya dari mudik lebaran kemaren aku disambut dengan beberapa tanamanku yang tampak merana. Bahkan satu pot toreniaku yang seharusnya rimbun sudah menjadi seonggok semak kering dalam pot, begitu juga beberapa tanaman gantungku :(







Gak hanya tanaman yg merana, seekor ikan mas koki peliharaanku di kantor juga mati, tersisa sebagian tulangnya.

tapi ada sedikit kegembiraan saat melihat di salah satu pot tanaman toreniaku akhirnya muncul kuncup bunga berwarna pink.


Bakar Batu


Sabtu lalu, di lapangan entrop, gak jauh dari kantorku diadain acara bakar batu dalam rangka kampanye pencalonan gubernur Barnabas Suebu. Acaranya dimulai sekitar pukul 10-an pagi, kebetulan aku lewat saat menuju ke kantor, dan akhirnya memutuskan buat mampir menyaksikan prosesnya. Acara Bakar batu biasanya diadaain untuk kegiatan adat suku-suku di papua, seperti perdamaian perang suku, acara pelepasan atas hak tanah serta acara-acara adat lainnya.


Saat aku mampir ke lapangan entrop, proses "penyembelihan" babi udah hampir selesai, tinggal beberapa ekor babi yang masih berjuang melawan para algojo. Penyembelihan babi ini gak kayak penyembelihan sapi atau kambing, tapi babi-babi itu disembelih dengan cara dipanah oleh para algojo. Ketika panah sudah menancap di tubuh babi, segera anak panah itu dicabut lagi, kemudian beberapa saat anak panah lain menancap, dicabut dan diulang beberapa kali sampai babi itu menjerang nyawanya.

err.....sebelom nyempetin buat scrol ke bawah, aku mo ngingetin klo banyak foto yg mengandung hal menjijikkan









Setelah proses penyembelihan selesai, dilanjutkan dengan proses pengulitan. Dengan bara api yang sudah disiapkan di atas cerukan-cerukan tanah, tubuh babi dipanggang agar lapisan kulit luarnya mengelupas. Langkah berikutnya bagian jeroan babi dikeluarkan sebelum tubuhnya dibakar di atas batu-batu yang telah dipanaskan sampai membara. Selain babi, di atas bara batu dibakar pula ketela, talas dan daun ubi. Barulah setelah semuanya matang daging-daging diiris dan dibagi-bagikan beserta ubi, ketela dan daun ubi bakar.





Pulau Kosong

Sabtu pagi, bareng Bambang, Roid dan Dany, aku brangkat bersepeda motor menuju arah pelabuhan Jayapura. Bukan mau bepergian jauh dengan kapal antar pulau, tapi cuma mau nyebrang ke Pulau Kosong yang dermaga penyebrangannya terletak tidak jauh dari Pelabuhan. Setelah menitipkan motor di sekitar dermaga, dengan menggunakan perahu motor bertarif Rp 2000 sekali jalan, dalam waktu sekitar 10 menit kami diantar menuju Pulau Kosong yang terletak di Teluk Humbold. Setelah tinggal selama lebih dari 2,5 tahun di jayapura, ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Kampung Kayopulau.



Kampung yang dihuni oleh warga asli buton ini terbagi menjadi dua pulau, salah satunya memiliki tugu salib raksasa di puncak bukitnya. Menurut cerita, dahulu ketika warga Buton pertama kali datang ke Jayapura mereka tidak diperbolehkan tinggal di wilayah darat, sehingga akhirnya mereka membentuk komunitas dan tinggal di Pulau Kosong. Kampung yang sebagian rumahnya berdiri di atas permukaan laut ini mayoritas penduduknya beragama muslim, sehingga terdapat surau kecil di tengah pulau yang tidak memiliki tugu salib.


Penjelajahan di Pulau Kosong kami awali dengan berjalan dari dermaga menuju arah tanjung. Jalanan penghubung antar rumah di pulau ini sebagian terbuat dari kayu besi, karena memang letak sebagian besar rumah warga berada di atas laut. Di antara deretan rumah ada beberapa warung yang menjual mie instan, rokok dan beberapa keperluan sehari-hari, dengan harga yang tidak berbeda dengan harga barang di Kota Jayapura. Yang unik dari perjalanan melewati rumah penduduk ini adalah kita bisa melihat aktivitas keseharian warga secara dekat, karena jalan kampung langsung terhubung dengan rumah penduduk. Di sela-sela antar rumah kita juga bisa melihat berbagai jenis ikan yg sengaja dipelihara dalam jaring, beberapa malah jenis ikan koral yang berwarna-warni cantik. Sesampainya di tanjung kami masih melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak ke arah bukit karena kami masih berharap dapat menemukan pemandangan dan lokasi yang lebih baik.


Penyusuran jalan setapak ke arah bukit akan membawa kita menuju beberapa spot bibir pantai yang terjal dan berbatu karang dengan ombak yang cukup besar. Jika melanjutkan berjalan ke arah puncak bukit, maka pemandangan Teluk Humbold yang indah akan dapat kita nikmati di sana. Di puncak bukit ini juga terdapat sebuah makam tua yang telah tersemen, tidak ada informasi tulisan di makam ini, kemungkinan ini makam tetua warga buton. Lokasi puncak bukit ini cukup datar sehingga cocok jika digunakan untuk camping, dari sisa abu pembakaran di sekitar makam, kemungkinan memang sering ada orang yang berkemah di sini.






Karena berjalan sampai di puncak bukitpun kami tidak menemukan pantai dengan pasir putih, akhirnya kami berjalan menuruni bukit kembali ke tanjung, sebab di sana ada beberapa cerukan pantai yg berpasir. Niat hati sih pengen duduk di pantai sambil baca buku, tapi melihat air laut yang jernih kami tergoda untuk berenang di sekitar tanjung. Air di sekitar tanjung sebagian cukup dangkal, tidak bisa digunakan berenang malah, tetapi sebagian lagi berarus cukup kencang, sehingga kami memilih berenang di daerah pemukiman warga.




Selain hamparan alga berwarna hijau yang tampak asri dan bintang laut warna-warni, di beberapa tempat bertemunya arus dingin dan hangat terdapat gugusan koral dan ikan-ikan warna-warni. Sayang, ketika sampai di daerah yang berkoral baterai kamera sudah habis.









Di Kampung Kayopulau ini tidak ada penjual makanan berat, jadi jika ingin menghabiskan sepanjang siang bermain di pulau kosong kita harus membawa bekal makanan yang cukup. Karena kurangnya bekal makanan yang kami bawa, sekitar pukul 3 sore kami memutuskan untuk kembali menyeberang ke Kota Jayapura. Dalam perjalanan dari kampung menuju dermaga rombongan kami dikawal oleh beberapa anak kecil -12 anak tepatnya- yang penasaran dengan Dany :D


salam kecup unyuuu :D


Pacar air lainnya


wuhuuuu kuntum bunga pacar airku mekar lagi :D cantik yaaa
seingetku cuma 2 jenis pacar air yang aku semai, tapi sekarang dari tanaman dg warna batang hijau yg sama muncul warna bunga yang berbeda, semoga bunga pacar airku yang berbatang merah menghasilkan warna bunga yang berbeda juga

weekend kemaren, ujan seharian

Weekend kemaren aku gak sempet berkebun lagi, cuman sempet foto tanamanku yang ada di bagian depan kontrakan.


Gak sempet berkebun bukan karena males, tapi emang weekend kemaren situasinya gak memungkinkan :). Dari Sabtu pagi aku ikut pergi ke Pantai harlem (lagi) bareng sama temen kantor yang ngadain jalan-jalan perpisahan temen senior yang mutasi ke Jawa.





hihihi roid in action :D

Lokasi harlem yang gak deket bikin sesiangan sabtu itu aku gak di rumah, begitu malem sampe di rumah hujan yang mulai mengguyur sejak sore gak berhenti juga sampe minggu siang.

Minggu siangnya pas aku masih gegoleran di kasur aku dapat massage dari Bambang, temen kontrakanku, dia ngasih tau kalo temen dunia mayanya, orang Rusia, yang lagi backpacking dan mau nginep di tempat kami selama lagi di Jayapura udah nyampe, jadi begitu ujan reda aku jemput itu bule. Namanya Daniel, udah 1,5 tahunan keliling ke berbagai negara dengan cara hitchhiking, minggu kemaren dia dari PNG, trus nyebrang ke Indonesia lewat perbatasan Jayapura, jadi sekarang Dany tinggal di kontrakan bersama kami selama dia meng-explore kota Jayapura.