Theme Preview Rss

Aku Suka Januari


Januari adalah bulan favoritku di kantor, selain karena belom banyaknya kerjaan, bahkan di awal bulan belom ada kerjaan kayaknya, di bulan ini ada acara perayaan HUT kantor. Aku seneng sih dengan suasana perayaan ultah kantor, biasanya diadain lomba-lomba antar bagian gitu, jadi suasananya cukup meriah. Ya walopun lomba-lombanya gitu-gitu aja tapi orang-orang pada heboh jadi suporter unit kerjanya masing-masing. Aku sih jarang ikutan lomba-lombanya karena banyakan yang dilombain pertandingan olahraga, lha aku olahraga yang bisa cuman lari sama renang doang, itupun sekedar bisa, gak jago. Jadi ya seperti biasanya, aku kebagian jadi tukang foto aja.


Tahun ini selain lomba pertandingan olahraga dan lomba-lomba macam tarik tambang dan balap karung, diadain juga lomba masak nasi goreng yang diikutin para bos. Bos-bosnya masak, para anak buahnya heboh jadi suporter, yang tak disangka-sangka pada heboh pake atribut, bikin yel-yel, bikin lagu, sampe bikin maskot bebancian segala. Kayaknya sih ini jadi sarana pelampiasan para pegawai yang udah jenuh sama kerjaannya, jadi pada heboh gitu.

Untuk ngeramein upacara bendera, tahun ini juga dibentuk paduan suara, aku diajakin ikutan karena jarang banget pegawai cowok yang mau. Aku gak jago nyanyi, gak paham sama nada-nada gitu, baca partitur aja gak bisa, jadi taunya cuman ngikutin aja apa yang disuruh sama pelatih. Pas tampil sih kayaknya lumayan berhasil, soalnya gak pake disorakin sama peserta upacara :)

Puncak perlombaan sih biasanya lomba karaoke, karena yang dinilai gak cuma penyanyi yang tampil mewakili masing-masing bagian, tapi juga kehebohan suporternya, kayaknya sih malah penyanyi yang tampil cuman jadi embel-embel aja. Tahun lalu aku jadi salah satu wakil dari sekretariat, jangan ditanya soal nyanyinya, ancur banget, tapi kami tampil heboh pake penari latar segala, dan para suporternya pun heboh luar biasa. Aku tampil nyanyi oplosan, lengkap dengan penari latar dengan koreo ala YKS, suara falesku terabaikan karena juri teralihkan oleh kehebohan kami.

Tahun ini aku diminta untuk ikut lagi, tapi aku gak sendiri, aku tampil bareng mas dwi, dan ihsan, kami tampil mewakili sekretariat sebagai trio "d'terong". Ada dua lagu yang harus kami nyanyikan, lagu pertama adalah lagu wajib, lagu koes plus: andaikan kau datang kembali, dan satu lagu pilihan, dari beberapa lagu pilihan yang telah ditentukan panitia, kami meilih terajana. Karena padatnya acara perayaan HUT, kami baru sempat berlatih pada hari-h. Setelah upacara bendera kami baru berlatih dan siangnya kami harus tampil. Rencana awal grup kami terdiri dari lima orang, tapi karena satu orang punya kerjaan yang gak bisa ditunda, dan satu lagi suaranya ilang, grup kami jadi sebuah trio plus. Trio d'terong plus seorang penari latar, yang tak lain anggota yang suaranya hilang, totok.

Seperti tahun lalu, suporter dari masing-masing unit kerja telah menyiapkan kehebohan untuk mendukung penyanyinya yang tampil, tapi kali ini lebih heboh dan lebih kreatif dari tahun lalu. Ada unit kerja yang penyanyinya tampil dengan kostum beskap jawa saat menyanyikan lagu stasiun balapan, lengkap dengan suasana stasiun yang diciptakan dari adegan akting perempuan yang sedih melepaskan kepergian pasangannya dan penjual asongan yang wara-wiri menawarkan dagangannya. Unit kerja lain tampil ala peragaan busana victoria secret, saat penyanyinya tampil, para pegawai cewek sibuk wara-wiri berjalan ala model, tetapi menggunakan busana muslim.


Kami tampil dengan kehebohan suporter kami yang menang jumlah dan berisik dengan alat musik panci dan galon air. Ehm, silahkan ditonton saja penampilan kami di sini

 
d'terong - andaikan kau datang kembali

d'terong - terajana

meskipun sempat salah dan lupa lirik, tapi sekali lagi kehebohan suporter kami mengalihkan perhatian juri, sehingga kami kembali berhasil menjadi juara 1 :D. Untuk merayakan kemenangan kami, kemaren siang kami makan bersama, dengan menu penyetan terong, yang dimasak terong yang dipake buat properti para suporter karaoke XD





 

Menjadi Turis di Malang



Weekend kemaren aku dan dua orang temenku, toni dan deshti, menjadi turis di malang. Aku memang tinggal di malang, tapi mengunjungi kota malang dengan berpura-pura menjadi turis dari luar kota tentu beda rasanya :)

Sebenarnya yang pengen banget maen ke malang sih si toni, karena aku gak ada kegiatan aku ikut juga nemenin maen. Hari sabtu jam 9 pagi kami janjian bertemu di terminal bungurasih Surabaya. Situasi terminal sangat ramai, bahkan untuk mencari parkiran motor pun menjadi susah, dan begitu dapat tarifnya sudah dinaikkan berkali lipat, harga normal yang cuma 5 ribu/hari berlipat menjadi 20 ribu! dalih si tukang parkir sih, karena hari itu adalah Maulid Nabi, tarif khusus karena banyak yang bepergian dan mencari parkiran. sekitar jam 9.15 kami berangkat naik bis patas dari terminal Purabaya (Bungurasih) menuju terminal Arjosari, Malang. Perjalanan Surabaya - Malang yang umumnya hanya ditempuh dalam waktu 2 jam, kali ini kami tempuh selama 5 jam! Jalanan ke arah malang memang selslu padat ketika weekend, tapi kepadatan kali ini lebih dari biasanya, sepertinya liburan sekolah yang hampir berakhir ikut berpengaruh pada padatnya lalu lintas.

Sekitar jam setengah dua kami tiba di Terminal Arjosari, aku sempat bertemu dengan adekku yang akan pergi ke Jakarta dengan menggunakan bis. Bisnya pun tak bisa datang tepat waktu karena terjebak macet, tapi ada baiknya juga bisnya telat, jadi aku masih sempet bertemu dengan adekku yg akan ke Jakarta untuk mengurus proses pendaftaran kerja.

Setelah sholat di mushola terminal, kami langsung mengisi perut kosong kami dengan bakso yang gerobaknya mangkal di dekat mushola, alhamdulillah bakso di malang ini biarpun dijual di gerobak rasanya tetep aja sedap :). Kelar makan, perjalanan kami lanjutkan dengan naik angkot menuju kota, kami pilih naik angkot AL karena angkot ini melewati Balaikota. Sebenarnya kami belom punya tujuan pasti, penginapan saja kami belum dapat, sebelumnya aku sudah mencoba browsing referensi penginapan murah di Kota Malang, dan Splendid Inn yang lokasinya di dekat Balaikota adalah salah satu opsi yang paling oke. Sayangnya dari website booking hotel sudah tak ada kamar tersedia di Splendid Inn, tapi kami mau mencoba gambling datang langsung, jika memang sudah tak ada barulah kami cari penginapan lain yang berlokasi di sekitar alun-alun kota.

alun-alun bunder di depan balikota
Sesampainya di Splendid Inn yang terletak pas di samping Hotel Tugu, alhamdulillah ternyata masih ada kamar yang tersedia. ada 3 tipe kamar yang mereka tawarkan, Suite (300 ribu), Standar A (280 ribu) dan Standar B (260 ribu), kami memilih standar B yang tanpa AC, ditambah dengan extra bed seharga 75 ribu. Hotel dengan bangunan lama ini cukup bersih, dan jadi pilihan para turis asing yang berbudget rendah karena lokasinya yang strategis, dekat dengan balaikota, alun-alun bundar, pasar bungan dan hewan splendid, dan tak jauh dari alun-alun pusat kota. Setelah diantar ke kamar kami, receptionist yang merangkap bell boy menawari kami pilihan minuman hangat sebagai wecome drink, bisa teh atau kopi. Kami semua memilih kopi, dan ketika minuman telah diantar, yang datang tak hanya kopi, tapi ada juga susu kental manis dan 3 iris cake.



Kegiatan pertama yang kami lakukan di hotel adalah tidur-tiduran, setelah perjalanan yang lumayan panjang, meluruskan tubuh dengan rebahan di kasur sungguh terasa nikmat, cuaca malang yang sejuk makin menambah nikmatnya rebahan sore kami. Sekitar pukul 5 kami baru keluar dari hotel, kami berjalan ke arah alun-alun kota untuk menghabiskan sore, tentunya sebagai turis dari luar kota kami tak lupa berfoto di beberapa tempat yang kami anggap menarik. Salah satunya di jembatan penyebrangan dengan background gereja katedral.


Alun-alun kotaa cukup ramai di saat sore, khususnya saat weekend. Banyak keluarga yang menghabiskan waktu untuk menikmati sore di alun-alun dengan duduk-duduk, berbelanja, makan dan menonton topeng monyet. Kami berkeliling alun-alun sambil makan tahu petis hingga matahari tenggelam.



Dari alun-alun kami berjalan ke arah timur, ke jalan MGR Sugiyopranoto (xixixi aku baru tau nama jalannya setelah buka google map), kami mampir makan di Martabak Agung yang berada di ruko samping toko buku siswa. Niat kami untuk memesan martabak terurungkan, karena saat itu martabaknya habis dan baru ada lagi sekitar jam setengah tujuh malam. Kami memesan Nasi Mandhi kambing yang dibuat dari beras brasmathi, dan semur ayam yang cukup enak tapi hanya berisi 4 iris daging ayam. 


Dengan berjalan kaki kami kembali ke arah alun-alun bundar, suasanan di alun-alun bundar tak kalah ramai dengan alun-alun kota, banyak keluarga dan pasangan yang bermalam minggu di tempat ini. Kami hanya duduk-duduk mengobrol di tempat ini, sambil menunggu agar perut kami siap kembali untuk diisi.


Sekitar pukul delapan kami bergegas menuju Java Dancer Coffee yang terletak di halaman Hotel Kartika Kusuma, cukup dengan berjalan kaki sekitar 50 meter dari alun-alun bunder kami sudah sampai. Seperti biasanya, kafe ini cukup ramai, untungnya kami masih kebagian tempat duduk meskibun di bagian serambi. Selain kopinya, menu favorit di kafe ini adalah pizza italia, pizza tipis renyah dengan cocolan saos tomat yang khas.


 Karena tak ingin segera kembali ke penginapan, kami melanjutkan jalan-jalan (literally) ke MOG, lumayan juga berjalan sejauh 1,5 km dari JDC ke MOG untuk berkaraoke di Inul Vista, ya, memang kami cukup nista, ke luar kota pun masih saja menyempatkan untuk berkaraoke ria. Hari telah berganti saat kami meninggalkan tempat karaoke, pun kami kembali berjalan pulang ke penginapan, apa daya sudah tak ada lagi angkutan umum yang beroperasi pada dini hari.

Saat bangun pagi, badan sebenarnya sudah terasa kurang fit, tapi semangat untuk berlari pagi di kota malang terasa lebih bergelora. Saat yang lain masih terlelap tidur aku berlari pagi di jalanan yang cukup sepi dan menempuh sekitar 3 km. Saat lari memang badanku terasa lebih segar, tapi lari pagi yang aku paksakan meski badanku tak fit ini berbuah sesal kemudian.

Rencana untuk mengunjungi pasar pagi di sekitar stadion Gajayana yang hanya digelar di hari minggu kami batalkan. Kami lebih memilih tidur-tiduran memakai selimut sambil nonton tv di kamar. Acara tidur-tiduran kami disela dengan sarapan pagi, penginapan kami menyediakan 2 pilihan menu sarapan, nasi goreng dan roti bakar. Sarapan tak langsung tersedia di ruang makan, tapi tamu hotel harus pesan dulu di meja kasir, kemudian sarapan sesuai pesanan akan diantar ke meja. kami memesan nasi goreng dan roti bakar, dan dua-duanya rasanya cukup lumayan, cukup pedas untuk nasi gorengnya. Tak hanya pesanan kami saja yang datang, mereka juga memberi jus tomat dan buah pisang untuk sarapan.


Tepat jam 10 pagi, kami baru beranjak keluar dari hotel. Kami mengunjungi Pasar Splendid, Pasar bunga dan hewan peliharaan yang berada tak jauh dari belakang hotel. Pasar Splendid selalu ramai pengunjung, tak hanya para pembeli, tetapi banyak juga orang yang datang sekedar untk melihat-lihat berbagai tanaman hias dan hewan peliharaan yang diperjual-belikan. Hanya sebentar kami mengelilingi Pasar Splendid, kami melanjutkan langkah kami dengan gontai ke jalan semeru. Tujuan kami adalah untuk mengunjungi Warung Bakso Pak Toha untuk makan siang, sayang pada saat kami datang warungnya masih tutup. Tepat di seberang warung bakso ini ada supermarket makanan impor lai-lai, di dalamnya terdapat sebuah cafe, Illy Cafe, yang menunya cukup enak dan murah, di situlah akhirnya kami makan siang. Illy cafe menjadi destinasi terakhir kami berwisata di Kota Malang, jam 12 siang kami sudah checkout dari hotel dan melakukan perjalan pulang ke Surabaya. Meski aku telah lama tinggal di malang, tapi menikmatinya dari sudut pandang berbeda, sebagai turis, memberikan kesan tersendiri, well....see you Malang, nanti-nanti kami akan kembali datang.


*padahal tiap 2 minggu sekali pasti balik ke malang juga :p


 

its a new beginning


Its a new beginning....

foto ini aku posting di path pagi-pagi tadi, jadi postingan pertama tahun 2015 di path
dan akhirnya jadi postingan pertama juga di blog ini, setelah sekian lamaaaaaaaaa blog ini mati suri :D

ternyata nulis blog gini, walopun yang aku tulis hal-hal gak penting, tapi bisa jadisesuatu yang bikin aku inget berbagai hal, yang mungkin sepele tapi bisa bikin senyum-senyum sendiri.

jadi apa aja yang sudah terlewatkan?
ehm banyak, tapi highlightnya sih, kehidupan di Sidoarjo beda banget sama pas di Jayapura dulu.
Ini Tahun kedua aku tinggal di Sidoarjo, dan seperti yang terlihat dari postingan di blog ini, yang mana selama dua tahun cuman ada 4 postingan, kehidupan di Sidoarjo udah gak cocok lagi sama header lama blog. "food, garden and the weekend" sebelumnya jadi header yang pas sama isi postingan blog ini, yang memang isinya dominan tentang hal-hal yang aku kerjain selama weekend di Jayapura, entah itu lagi iseng bikin kerajinan tangan, foto-foto ataupun masak. Nah, karena sejak tinggal di Sidoarjo aku udah jarang ngelakuin hal-hal itu, makanya gak ada bahan juga buat diposting.

sekarang weekendku diisi dengan pulang kampung ke Malang, tidur-tiduran, ngemall, sama pemotretan. Iya sekarang aku udah punya usaha maen-maen, jasa foto yang aku diriin bareng dua sahabatku. Namanya grafato, singkatan dari nama kami, GRAndis, FAriz, TOni, xixixi shallow banget ya :). Udah jalan hampir setahun setengah kali ya, lupa juga kapan pastinya grafato ini berdiri. 

aku cerita grafato aja deh di sini, dikit kok :)
jadi awalnya aku sama sahabat-sahabatku ini emang hobi foto-foto. Xixixixi dari jaman kami kenal awal-awal, pas masih smp, kami udah seneng foto-foto. Pas weekend kami sering kumpul-kumpul trus jalan-jalan sepedaan dan diakhiri dengan acara berfoto bersama di tempat-tempat menarik di sekitar rumah kami. Dulu sih tempat favorit kami di hutan jati, selaen karena sepi tempatnya juga oke buat foto :D.

Karena itulah, kami kepikiran buat nyalurin hobi gak jelas kami, kami bikin usaha foto outdoor yang memang lagi booming. Aku kebagian jadi tukang foto sama tukang edit, fariz kebagian ngurusin soal baju yang bakalan dipakai sama klien, toni jadi pengarah gaya dan marketingnya, tapi pas di lokasi selaen aku, mereka juga bantuin foto, kadang motret, kadang bantuin megang lighting :D. Awalnya sih grafato cuman ngasih jasa foto prewedding, tapi karena foto hamil dan baby juga booming ya kami bisa juga.

Gitu deh, jadi kalo weekend kegiatanku gitu, kalo ada job grafato ya sabtu atau minggu foto, kalo gak ada aku pulang ke malang, tidur-tiduran ato ngemol sama adek-adekku, kalo lagi males pulang ya selama weekend cuman tiduran di kontrakan (eh aku numpang tinggal ding di rumah yang di kontrak aan :D).

kalo pengen liat hasil foto grafato, nih webnya grafato, silahkan mampir :), dikritik sih boleh banget, tapi jangan dihina yak, namanya juga masih belajar, masih ecek-ecek hasilnya.


 

pasangan (turnamen foto perjalanan ronde 15)

Sungguh kasian blog ini, Semakin lama semakin terlantar saja nasibnya.
Entahlah, tapi sejak tinggal di sidoarjo, sepertinya semakin sedikit hal yang bisa dijadikan bahan postingan, semakin berkurang juga waktu yang disediakan sekedar untuk membuat postingan. Atau mungkin juga karena aku lebih sering posting foto di akun instagram akhir-akhir ini, sehingga hal yang seharusnya bisa di share di blog ini pun akhirnya tak muncul sebagai postingan baru. 

Kali ini, demi mengisi kekosongan postingan baru setelah sekian jeda waktu, aku ingin memposting foto sebagai submission di turnamen foto perjalanan ronde 15 yang di-host oleh dansapar.

pasangan, bukan?
 
Dengan tema "pasangan" , aku memilih foto ini untuk meramaikan turnamen foto tersebut. Kenapa? karena "pasangan" ini sering jalan dan melakukan berbagai hal berdua, termasuk travelling, tetapi mereka menolak untuk disebut sebagai "pasangan". Well, memang sih yang cewek udah bercowok, tapi yang cowok sih singgel. Entahlah ya, apa isi hati dan pikiran mereka tentang hubungan ini, tetapi yang pasti "pasangan" ini temen traveling yang menyenangkan :).

Bagi yang berminat untuk ikut turnamen foto ini, silahkan baca aturan dan syaratnya di sini

 
 

hello world

Hello world!!!

Fiuh, akhirnya setelah sekian hari, sekian minggu gak nyempetin buat bikin satu postinganpun di blog ini, hari ini sebuah paket datang dan bisa dijadiin bahan postingan :)
Enggak, aku gak akan make alasan gak posting karena laptop udah 2 minggu diservice gak kelar-kelar, atau karena gak ada waktu buat ngeblog, tapi memang aku belum punya hal buat dishare. Ehm, mungkin juga karena euforia kepindahanku ke jawa membuat aku lupa kalau ngeblog bukan pelarianku selama di papua, tapi ngeblog adalah hal yang bikin aku punya dunia baru, temen-temen baru, dan kesempatan baru.


Oukeh, cukup itu aja, sekarang aku akan mamerin paket yang datang padaku hari ini. Sebuah paket yang berisi sepotong kain batik (cirebon?), sebuah buku kumpulan cerpen, dan sebuah kartu foto. Semua barang ini aku dapat karena aku dipilih buat jadi salah satu pemenang atas testimoni di blog dansapar.com.Thanx mas dansapar, aku tau kamu milih aku karena aku sering maen ke blogmu :D

dansapar.com ini wajib dikunjungi oleh orang-orang yang mau dapat cerita tentang perjalanan sang penulis dalam mengeksplorasi tempat wisata, budaya dan sejarah Indonesia. Gak cuman berisi soal perjalanan aja, blog ini juga dihiasi dengan foto-foto menarik dan tentunya ditunjang dengan kekuatan bercerita sang penulis yang okeh! so,tunggu apalagi, sana segera berkunjung ke dansapar.com

 

nu year, nu life

 
Happy New Year People!

Banyak hal yang udah terlewat tak aku posting di blog ini, tapi di tahun baru ini, tak sekedar tahun yang berganti, kehidupan baruku pun dimulai (anggap saja begitu). Hari pertama di Tahun 2013 diisi dengan tiduran sesiangan, sesorean, menunggu hujan reda di dalam kamar kosan baru. Tak ada resolusi untuk tahun ini, hanya berharap kosan baru, kantor baru, dan kehidupan baru di Surabaya (Sidoarjo tepatnya) ini membawa berkah dan kejutan-kejutan menyenangkan. Semoga kalian mendapatkan pengalaman yang luar biasa dan kehidupan yang menyenangkan di Tahun 2013 ini blogger! 

p.s. eh , itu fotonya bukan gloomy loh ceritanya, itu kamar kosan baruku yg berjendela luar, dan maksudnya sih, ada banyak harapan baru yang akan dihadapi di 2013 ini

 

farewell


Sepertinya ini adalah foto momen-momen terakhir kami sedang menonton tv bersama di kontrakan. Dengan pindahnya aku dan Alvaz dari Jayapura, Bambang pun akhirnya memilih untuk kembali tinggal di kosan. Sampai jumpa housemate, semoga kehidupan baru yang lebih baik menanti kita semua.

 

Day #3 - Bangkok



Hari ketiga di bangkok diawali dengan perjalanan menggunakan BTS ke Stasiun Saphan Thaksin. Niat awal menggunakan MRT kami batalkan karena ternyata tak ada MRT ke arah selatan dari Stasiun Shukumvit yang transit di Sala Daeng. Meski kaki kami mulai capek karena perjalanan hari sebelumnya, tapi semangat dan olesan counterpain sebelum pergi tidur cukup membantu meredakannya. FYI harga Counterpain di Thailand jauh lebih murah dibanding di Indonesia, bahkan teman Dipho sampai request oleh-oleh Counterpain segede pasta gigi 200 ml karena harganya cuman 60 tbh. Saat kami sedang menikmati pemandangan gedung-gedung dari balik kaca BTS, terdengar suara mbak-mbak mesin yang berbunyi “ satani ton pai, satani saphan thaksin. Next station, saphan thaksin station” kami segera bergegas dari tempat duduk kami dan berdiri di dekat pintu keluar otomatis BTS. Stasiun Saphan Thaksin yang kami tuju ini merupakan akses untuk menggunakan transportasi di sungai Chao Praya.


Tepat di bawah Stasiun BTS Saphan Taksin terdapat Sathorn Pier yang biasa disebut dengan Central Pier karena semua jalur perahu di Sungai Chao Praya berhenti di dermaga ini. Sekitar 30 menit kami menunggu di Sathorn Pier sampai akhirnya perahu dengan bendera orange datang mendekat dari arah timur. Dengan perahu berbendera orange tersebut kami menuju daerah Rattanakosin untuk mengunjungi kompleks kuil seperti Wat Pho, Wat Arun dan juga Wat Phra Kew di dalam Kompleks Grand Palace. Perahu bendera orange kami pilih karena jalur orange ini berperahu lebih besar dan lebih cepat karena tak berhenti di setiap pier. Seperti saat menaiki bis dari bandara, dalam perahu ini juga ada seorang kondektur wanita yang membawa perlengkapan wajibnya, sebuah tabung tiket. Dari Sathorn Pier ke dermaga tujuan kami, Ta Tien Pier, dikenakan tariff 15 tbh. Ta Tien Pier adalah sebuah dermaga kecil di seberang Wat Arun, kami memilih berhenti di dermaga ini karena letaknya lebih dekat dengan Wat Pho yang menjadi tujuan awal kami. Selain Ta Tien Phier, dermaga yang umum dituju oleh para turis adalah Tha Chang Pier yang berlokasi lebih dekat dengan Kompleks Grand Palace, dan juga Pier Phorn Athit yang berlokasi di sekitar Khao San Road, yang dikenal sebagai daerah Backpackker.



Melalui jalanan kayu yang dibangun sedikit lebih tinggi untuk menghindari banjir Sungai Chao Praya, kami berjalan keluar dari Ta Tien Pier menuju Wat Pho. Kami melewati kios-kios penjual makanan dan cumi kering sepanjang perjalanan menuju Wat Pho. Kami tiba di Wat Pho sekitar pukul 8 pagi, masih cukup sepi meski loket karcis telah buka sejak pukul 7.30. Untuk masuk ke Wat Pho dikenakan tiket sebesar 100 tbh dan pengunjung dilarang menggunakan celana pendek atau pakaian yang tak berlengan. Bersama pengunjung lainnya kami menyaksikan ritual doa pagi dari para umat budha yang datang untuk beribadah, yang akhirnya membuatku penasaran dan ikut sok-sok-an berdoa dengan membakar lilin dan dupa serta menancapkan sekuntum bunga lotus di bejana di depan patung Budha. Kunjungan kami lanjutkan dengan memasuki sebuah bangunan kuil yang memiliki patung Sleeping Budha terbesar di Asia Tenggara. Sebelum masuk ke dalam kuil, setiap pengunjung diberi sebuah kantong kain untuk menyimpan alas kaki dan membawanya saat masuk melihat patung Sleeping Budha. Seperti biasa, kunjungan ke tempat semacam ini selain untuk melihat keindahannya juga untuk berfoto-foto ria, dengan pengunjung yang mulai ramai kami pun antri untuk berfoto di depan patung Sleeping Budha.

Tak seperti kuil yang di dalamnya terdapat Sleeping Budha, kuil-kuil lain yang ternyata banyak jumlahnya di dalam kompleks Wat Pho, jauh terlihat lebih sepi, karena pengunjung enggan mengeksplorasinya. Yang menarik dari Wat Pho dan kuil-kuil lainnya adalah relief-relief stupa yang dibuat dari susunan pecahan keramik berwarna-warni serta balutan warna emas pada patung-patung budha dan bangunan-bangunan kuilnya. Selain bangunan kuil yang memiliki patung budha yang berbeda antara satu dan lainnya, di dalam Wat Pho juga terdapat semacam sekolah dan asrama bagi para biksu, yang pada saat kami berkunjung tak banyak kami temui.

Selesai mengitari Wat Pho, kami kembali berjalan ke arah pasar yang kami lewati dalam perjalanan dari Ta Tien Pier. Kami membeli sarapan di sebuah kios yang memasang logo bulan sabit yang berada tepat di gerbang jalanan kayu. Makanan yang aku pilih adalah Pad Thai, semacam kwetiaw khas Thailand, selain itu kios makanan muslim ini menyediakan juga nasi goreng, tom yum kung dan lain-lain. Seporsi Pad Thai dihargai 60 tbh dan nasi goreng seharga 50 tbh. Dari tempat sarapan, kami berjalan menyusuri jalan di seberang selatan tembok komplek Grand Palace yang letaknya berseberangan dengan Wat Pho. Di sepanjang jalan ini terdapat deretan penjual batu-batu permata dan liontin patung budha yang biasanya dipakai sebagai jimat. Sekitar sepuluh menit kami berjalan sampai akhirnya kami menjumpai keriuhan para turis yang mengantri masuk di depan gerbang Grand Palace. Sebelum mengantri untuk membeli tiket, di sekitar pintu gerbang terdapat petugas yang memastikan pengunjung yang datang mengenakan pakaian yang sopan, yakni tidak memakai celana pendek dan pakaian tanpa lengan. Petugas akan melarang pengunjung yang tidak memakai pakaian yang sesuai dan menyarankan mereka untuk menutupi diri mereka dengan kain yang disediakan oleh pengelola (entah gratis atau sewa). Tiket Grand Palace bagi wisatawan asing sebesar 200 tbh, tiket ini termasuk tiket Vimanmek Museum, sebuah komplek rumah tinggal raja yang terbuat dari kayu jati yang berlokasi di daerah Dusit.

Bangunan pertama yang dapat dinikmati setelah melewati pintu pemeriksaan tiket adalah Wat Phra Kew, komplek kuil istana yang pada bangunan kuil utamanya terdapat sebuah patung Emerald Budha. Kami sempat berfoto di berbagai tempat di seputar Wat Phra Kew sebelum akhirnya memilih untuk duduk-duduk di gazebo untuk menghindari teriknya sengatan matahari. Di kuil utama pengunjung dizinkan masuk baik untuk beribadah ataupun sekedar untuk mengagumi keindahan arsitektur kuil yang megah, penuh dengan ukiran dan didominasi dengan warna emas dan merah. Karena dilarang untuk berfoto di dalam kuil, maka untuk mendapatkan foto patung Emerald Budha, pengunjung dapat memotretnya dari luar ruangan. Ramainya pengunjung membuka kesempatan bagi para pencopet untuk beraksi di tempat ini, meski telah banyak papan peringatan agar para pengunjung berhati-hati dan menjaga barang-barang berharganya, masih saja kami jumpai seorang turis jepang yang kebingungan melapor ke petugas karena dompetnya hilang.

Saat keluar dari komplek kuil, sebuah kios minuman kaleng telah menyambut para pengunjung, dengan cuaca yang begitu terik, minuman kaleng dingin seharga 25 tbh dengan berbagai rasa khas Thailand seperti pome, krisantemum, dan entah buah apa, laris diserbu para pengunjung. Di Grand Palace kami hanya bisa melihat kemegahan bangunannya dari luar karena kami datang di waktu yang kurang tepat, menurut penjelasan seorang guide, saat weekend pengunjung tak diperbolehkan masuk untuk melihat isi ruangan Grand Palace. Meski begitu kami cukup puas hanya dengan berfoto di depan gedung Grand Palace dan foto bersama dengan penjaga istana yang tampak diam mematung bak penjaga Iitana Inggris. Sebelum pintu keluar masih terdapat sebuah kuil, museum tentang Grand Palace dan museum tentang Ratu Sirikit, tapi karena kami cukup capek, kami tak sempatkan mengunjungi tempat-tempat tersebut.

Seperti yang telah kami tahu dari tv ataupun artikel yang kami baca, disekitar Grand Palace terdapat banyak modus kejahatan oleh para warga lokal. Mulai dari tuk-tuk yang pura- pura menawarkan harga murah untuk mengunjungi kuil-kuil lainnya di Bangkok, pencopet, guide yang menawarkan trip khusus dalam Grand Palace ataupun para penjual makanan burung yang memaksa pengunjung taman untuk membeli dagangannya. Untungnya, selama di Grand Palace kami tak sampai jadi korban kejahatan, meski kami telah melihat beberapa turis yang menjadi sasaran kejahatan dari warga lokal. Dari grand palace kami berencana melanjutkan perjalan kami ke Khao San Road, daerah yang terkenal sebagai pusat backpacker di Bangkok. Kami sengaja tak menggunakan tuk-tuk yang banyak parkir di sekitar taman di seberang Grand Palace, karena kami takut menjadi korban scam. Kami berjalan menyusuri taman ke arah sebuah tugu yang ada di tengah pertigaan jalan, dan menunggu tuk-tuk yang lewat di situ. Sebelumnya kami telah bertanya kepada seorang petugas polisi tentang harga sewa tuk-tuk dari grand palace ke Khao San Road, yaitu sekitar 40 tbh, jadi saat kami mendapat sebuah tuk-tuk, kami telah memiliki patokan harga untuk menawar.

Khao San Road sebenarnya cukup dekat dengan Grand Palace, itulah sebabnya daerah ini menjadi pusat backpacker, karena Grand Palace dan objek wisata disekitarnya dapat dengan mudah dicapai dengan berjalan kaki. Di sepanjang Khao San Road tampak dipenuhi dengan penginapan, tempat makan dan penjual pakaian serta berbagai kebutuhan turis yang kebanyakan didominasi oleh turis-turis bule. Meski barang jualan yang ditawarkan relative sejenis dengan Chatuchak Market, namun harga di Khaosan Road cenderung lebih mahal, dan para penjualnya sedikit kurang ramah. Karena tak menemukan tempat makan yang pas dengan keinginan kami, akhirnya pilihan makan siang kami jatuh pada KFC yang berada di ujung jalan Khao San. Harga makanan di KFC jauh lebih murah daripada KFC Indonesia, tetapi mereka tak menyediakan nasi dalam pilihan paketnya. Dua ayam, satu french-fries regular dan satu cola besar cuma dihargai 105 tbh, atau sekitar 32 rb rupiah, sayangnya rasa saos yang mereka sediakan cenderung manis tak seperti KFC Indonesia. Yang unik dari KFC Thailand adalah para pengunjung biasa makan menggunakan sendok dan garpu, tak seperti kami yang langsung makan dengan tangan, untungnya terdapat serombongan turis Indonesia yang makan di situ, jadi kami tak merasa menjadi paling aneh.

Dari Khao San Road kami berjalan menuju Phorn Athit Pier yang dapat dicapai sekitar 10 menit berjalan kaki. Dari pier ini kami kembali menggunakan perahu bendera orange menuju Tha Tien Pier, kali ini untuk menyeberang menuju Wat Arun. Wat Arun yang berada di seberang Tha Tien Pier dapat dicapai dengan menggunakan fery bertarif 5 tbh yang dermaganya berada di samping dermaga perahu. Berbeda dengan saat naik perahu, tiket ferry dibayar di loket yang berada di dalam pasar, bukan di atas ferry. Wat Arun dikenal sebagai kuil senja, karena dari puncak menaranya pengunjung dapat menikmati pemandangan kota Bangkok saat senja. Tak dikenakan tarif untuk mengunjungi komplek Wat Arun, tetapi untuk dapat naik ke puncak menara pengunjung harus membayar tiket sebesar 50 tbh. Meski menara Wat Arun tampak tinggi menjulang, pendakian menuju puncaknya tak secapek yang dibayangkan, tapi tangga yang sempit dan curam menjadi tantangan tersendiri bagiku yang sedikit takut dengan ketinggian. Menjelang maghrib kami kembali menyeberang ke Tha Tien Pier dan kemudian menggunakan perahu bendera orange menuju Sathorn Pier.

Sebelum pulang ke penginapan kami di Shukumvit, kami mampir di Siam Paragon untuk Sholat dan makan di foodcourt lantai 5 MBK. Menu makan malam yang aku pesan dari stall vegetarian adalah nasi dengan lauk sayuran dan semacam pilus dengan harga 45 tbh. Selama dua hari setengah ini semua objek wisata di Bangkok yang menjadi tujuan kami telah kami kunjungi, jadi esok hari kami hanya punya jadwal untuk menuju bandara Don Muaeng untuk melanjutkan perjalanan kami ke tempat lainnya. Meski belum sempat menengok hebohnya dunia malam patpong, uniknya Chinatown dan pasar terapung, tapi perjalanan di Bangkok ini cukup memuaskan dan diluar ekspektasi.




 

Day #2 - Bangkok


Hari kedua di Bangkok langsung diawali dengan perjalanan menuju chatucak weekend market atau biasa disebut dengan JJ market. Dari Shukumvit selain dengan menggunakan Sky Train, cara termudah lain untuk menuju Chatuchak adalah dengan MRT, karena stasiun BTS Asoke merupakan interchange dengan stasiun MRT Shukumvit . Sedikit berbeda dengan Sky Train, MRT tidak menggunakan tiket, tapi menggunakan token untuk akses masuk ke jalur kereta. Untuk menuju JJ market, jika menggunakan sky train maka stasiun yang dituju adalah Mo Chit, sedangkan jika menggunakan MRT stasiun paling dekat adalah Kamphaeng pet (bukan chatuchak), yang pintu keluarnya berada tepat di bagian tepi pasar. Tarif MRT dari stasiun Shukumvit menuju Stasiun Kamphaeng Pet sebesar 36 thb, mungkin karena jalur MRT lewat bawah tanah dan tidak melewati tempat-tempat penting di pusat kota, tarif MRT sedikit lebih murah disbanding dengan Sky Train.


Karena terlalu bersemangat pada pukul 08.00 GMT+7 kami sudah berada di JJ market. Niatan untuk memulai hari dengan sarapan di JJ market harus kami tunda, karena memang sebagian besar kios di pasar ini belum buka. Suasana yang masih sepi kami manfaatkan untuk mengelilingi pasar yang katanya memiliki ratusan kios ini. Dari hasil berkeliling kami menentukan barang apa dan area mana yang harus kami tuju berikutnya saat kios-kios telah mulai buka. Barang yang dijual di JJ market beraneka ragam, layaknya weekend market lainnya, mulai dari pakaian, fashion item, pernak-pernik hiasan rumah, souvenir khas Thailand, makanan, tanaman hias, dan juga hewan peliharaan. Untuk mempermudah pencarian, kami menggunakan patokan clock tower yang berada di tengah pasar, karena di sekitar menara itu juga terpampang peta pasar. Sekitar pukul 10.00 GMT+7 pasar telah mulai riuh, karena kios-kios telah mulai buka dan pengunjung mulai ramai berdatangan.



Area tujuan pertama kami adalah area fashion gaul yang berada di bagian pinggir pasar sekitar exit 2 dan 3. Area ini didominasi oleh kios semacam distro mini yang menjual berbagai pakaian dengan label dan gaya yang berbeda tiap kiosnya. Kalau soal harga, dengan kualitas yang sama, harga fashion item di JJ market jauh lebih murah daripada di bandung ataupun Jakarta. T-shirt dijual dengan harga sekitar 200an tbh, dan celana pendek chino dengan berbagai model, warna dan bahan dibanderol sekitar 350 tbh, itupun sebagian masih bisa ditawar. Sebelum menuju area berikutnya kami mampir makan di warung yang memajang lambang bulan bintang sebagai tanda bahwa warung tersebut menyediakan makanan halal. Seorang ibu-ibu dengan dandanan ala bisnis women Madura (berkerudung dan menor) tampak sebagai pengelola warung makan tersebut. Makanan yang disediakan warung di sektor 17 ini antara lain nasi goreng, pat thai, tom yum, nasi briyani, papaya salad, nasi campur dll. Nasi briyani dan es thai tea yang aku makan dihargai sebesar 110 thb, sedangkan tom yum seafood dan ice thai tea yang dipho makan dihargai 200an thb, cukup pricy dan diluar budget :D. Sebenarnya di area sekitar Chatuchak Plaza ada bagian kios makanan halal, tapi sampai kami selesai mengelilingi pasar belum banyak penjual yang sudah siap dengan dagangannya.


Kelar dengan brunch kami, Area berikutnya yang dituju adalah bagian timur laut clock tower yang terdapat banyak kios penjual souvenir khas Thailand. Selain souvenir Thailand, di area ini juga terdapat banyak penjual souvenir yang biasa dipakai untuk pernikahan dan juga kios-kios penjual hewan peliharaan. Setelah berkeliling membanding-bandingkan harga, akhirnya kami memilih untuk membeli beberapa souvenir di kios yang penjualnya bapak-bapak yang menyapa kami dengan bahasa Indonesia, pun harga yang dia tawarkan jauh lebih murah dari yang lain karena barang jualannya boleh ditawar (dengan bahasa Indonesia). Harga souvenir di jj market berkisar dari 100 thb utk 4 magnet kulkas, atau 4 dompet koin, atau 2 cermin bulat, atau 3 dompet besar. Tak terasa kami sudah beredar di JJ market selama sekitar 5 jam, pantesan kaki sudah mulai berasa cenut-cenut, dan tentengan sudah bertambah jadi kami memutuskan untuk mengakhiri penjelajahan di JJ market dan melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan lainnya melalui stasiun BTS Mo Chit yang berada di seberang Chatuchak Park.


Dari Stasiun Mo Chit kami menggunakan Sky train menuju Stasiun Nasional Stadium dengan berganti kereta di Stasiun Siam. Tujuan kami adalah mengunjungi Jim Thompson House Museum yang berada tak jauh dari Stasiun National Stadium. Jim Thompson House Museum merupakan komplek rumah pribadi Jim Thompson, seorang pengusaha sutra Thailand yang juga seorang agen CIA. Meskipun bertiket 100 tbh, tempat ini layak untuk dikunjungi saat main ke Bangkok, karena dengan membayar tiket tersebut seorang pemandu akan membawa rombongan pengunjung untuk berkeliling komplek rumah dengan arsitektur khas Thailand. Komplek Jim Thompson House ini terdiri dari beberapa rumah kayu khas dari beberapa wilayah di Thailand. Saat tur berlangsung pemandu akan mengajak pengunjung masuk dan melihat ruangan-ruangan di dalam rumah utama dan menjelaskan fungsi tiap bagian beserta keunikan tiap-tiap furniture dan benda seni yang ada di dalamnya. Sayangnya selama mengikuti tur pesngunjung dilarang mengambil foto, padahal koleksi benda-benda seni dan interior rumah-rumah ini sangat menarik.


Saat hari telah beranjak sore, kami melipir ke Mall Siam Discovery yang ternyata jaraknya tak sejauh yang kami kira. Cukup dengan menyeberang melalui jembatan penghubung antara Stasiun National Stadium maka kami sudah berada di Mall yang ternyata berseberangan juga dengan Mall MBK. Selain untuk mengunjungi Madame Tussauds, tujuan kami mampir ke Siam Discovery adalah untuk mencari tempat sholat, namun sayang di Mall besar ini tak terdapat Prayer Room untuk muslim. Oleh petugas informasi kami disarankan untuk menuju Mall Siam Paragon yang letaknya tak jauh dari situ, cukup dengan berjalan kaki sekitar 200 meter melewati areal parkir, jika malas jalan, terdapat shuttle car yang mengantar jemput pengunjung Siam Discovery dan Siam Paragon. Prayer room di Siam Paragon terletak di lantai paling bawah, selantai di bawah supermarket. Berkat bantuan dari seorang mbak-mbak warga lokal yang baik hati kami berhasil menerjemahkan arahan dari ibu-ibu security dan menemukan Prayer Room tersebut. Di luar Prayer Room berjaga seorang satpam yang mewajibkan setiap pengunjung untuk mengisi buku kunjungan. Meski tampak jarang dikunjungi, tapi prayer room di Siam Paragon ini cukup bersih dan terawat. Selesai menunaikan kewajiban, kami kembali menuju Siam Discovery untuk mengunjungi patung-patung tokoh-tokoh idola kami.


Tiket Madame Tussauds sudah kami beli secara online sejak 3 minggu sebelumnya dengan harga 640 thb, diskon 20% dari harga normal. Jika membeli sebulan sebelum kunjungan tersedia tiket early visit dengan diskon 50% namun dengan waktu kunjungan sebelum pukul 10 siang. Saat kami masuk ke Madame Tussauds pengunjung di dalam masih cukup sepi, jadi kami masih bisa berfoto-foto dengan sesuka hati, namun sekitar 15 menit kemudian mulai muncul pengunjung lain yang membuat kami harus antri untuk berfoto. Selain para tokoh pemimpin dunia dan selebritis, di Madame Tussauds juga dipajang patung lilin tokoh-tokoh di bidang seni, olahraga bahkan tokoh kartun macam Doraemon. Pada venue-venue khusus seperti venue Presiden Obama, Johnny Depp dan Tom Cruise terdapat seorang petugas foto yang akan mengambil foto pengunjung di venue tersebut dan memberikan secarik kertas untuk ditukar dengan hasil cetak foto di Gift Shop pada bagian akhir kunjungan. Yang disayangkan dari Madam Tussauds adalah tak tersedianya penitipan barang, jadi kami harus menenteng barang belanjaan kami dari JJ market dan sedikit ribet saat akan berfoto. Tapi bisa dibilang mengunjungi madam tussaud cukup menyenangkan, lebih dari yang aku harapkan meski kami tak dapat berfoto dengan Beyonce yang hari itu tak dipajang.

Dari lantai 2 Siam Discovery kami menyusuri jembatan penghubung menuju Mall MBK di seberangnya untuk mencari makan malam di foodcourtnya. MBK merupakan salah satu mall yang telah berdiri lama di Bangkok, mirip dengan Lucky Plaza di Singapura, mall ini memiliki banyak stan yang menjual barang dan souvenir khas Bangkok. Di foodcourt lantai 5 terdapat 3 stan yang menjual makanan halal, yaitu penjual makanan ala Thailand Selatan, makanan timur tengah dan makanan vegetarian. Sistem pembelian di foodcourt ini dengan system voucher, pengunjung datang menukarkan uang dengan voucher di konter penukaran voucher dan menggunakannya sebagai alat pembayaran saat membeli makanan. Sisa voucher yang tidak digunakan dapat diuangkan kembali di konter refund. Malam itu menu makanan yang aku beli adalah nasi briyani dengan lauk ayam dengan harga 45 thb. Selesai makan malam kami berkeliling sebentar di dalam mall lalu kembali keluar mall melalui jembatan yang sama menuju stasiun BTS National Stadium untuk pulang ke hotel. Hari yang cukup melelahkan tapi memuaskan, sampai jumpa JJ Market, tunggu kami datang kembali tahun depan.